Search

Content

Subtle Disaster, Manga yang Bisa Bikin Emosi!




Judul: Subtle Disaster / 재앙은 미묘하게
Penulis: Sung-Ho AHN
Genre: PsychologicalSlice of Life, Drama
Volume: 1 (selesai)
Chapter: 45
Negara: Korea Selatan
Rilis: 6 Agustus 2014

Pernah gak sih, kamu keganggu sama suara tetangga? Anak-anak kecil yang sedang main, gonggongan anjing peliharaan, suara kendaraan, bahkan dentuman bas musik. Mungkin kamu pernah mengalami hal-hal tersebut, paling tidak, walau hanya sebentar, itu semua masih dalam batas kewajaran.

Songshin Ha

Kalo kamu anak kostan yang selalu ngeluh karena sehari-harinya cuma bisa nyantap mie instan, baca manga ini, lalu kamu patut bersyukur! Karena dalam cerita manga asal Korea Selatan ini, suara-suara bising tetangga adalah santapan sehari-hari bagi Songshin Ha, bukan lagi mie instan, makanan cepat saji mainstream kalangan anak meme, anak kostan, dan anak meme sekaligus anak kostan.

Sinopsis 



Apartemen
“Kok bisa? Suara-suara bising tetangga?”

Berlatar di sebuah apartemen di atas bukit, si tokoh utama yang berprofesi sebagai seorang penulis ini harus memiliki masalah serius dengan tetangganya. Berawal pada suatu malam, Songshin Ha yang sedang asyik menulis naskahnya, merasa terganggu oleh suara anak-anak yang sedang main dari ruangan yang terletak di lantai atas. Kemudian, didatangilah si tetangga berisik itu. Namun, bukan permintaan maaf yang ia terima, melainkan cacian dan amarah.

“Mereka yang berisik, kok mereka yang marah-marah? Nah lho, baru sinopsis aja udah agak bikin jengkel.”



Aku pikir, si tetangga itu aja yang asshole alias menyebalkan. Ternyata, di episode-episode selanjutnya, masalah ‘kebisingan’ makin menjalar di apartemen sampai hampir semua penghuni mulai ‘perang suara’ dan masih banyak lagi permasalahan di apartemen terpencil itu. Belum lagi, muncul tokoh perempuan provokatif yang sangat amat menyebalkan dan bisa memancing emosi kamu.


Review




Pertama baca manga ini, aku sempat mengira ini manga supranatural, karena si Songshin ini seperti punya kekuatan mendengar suara-suara kecil gitu. Setelah baca sampai akhir, ternyata tidak ada unsur supranatural sama sekali. Manga ini kalo aku bilang sih genrenya psychological, slice of life atau mau dibilang drama juga masuk, karena ada sedikit sesi sedihnya. Kenapa kata ‘sedikit’ nya digaris bawahi? Karena emang cuma sedikit, kebanyakan ceritanya bikin emosi. Walaupun dalam manga si Songshin Ha ini punya pacar, kamu gak akan menemukan cerita romantis dari mereka.


Dari segi grafis, karakter, bentuk, dan pewarnaan sangat memanjakan mata, dan bisa dibilang berbeda dengan manga-manga khas Korea Selatan lainnya. Pewarnaannya sangat wallpaper-able, apalagi untuk kamu yang membaca di Webtoon. Jujur saja, aku tertarik pada manga ini sebelum baca teks bubble nya, karena pewarnaannya yang memanjakan mata.

Oh iya, manga ini dapat kamu baca gratis di Naver Webtoon, dan tersedia dalam terjemahan Bahasa Indonesia. Sayangnya, Subtle Disaster tidak akan kamu temui di halaman depan. Tapi tetap bisa kamu baca di menu “Terjemahan penggemar”.

Overall, satu kata untuk manga emosional ini, masterpiece!

Rating: 5/5





Jisatsu Circle, Ketika Bunuh Diri Memiliki Nilai Seni



Judul: Jisatsu Circle / Suicide Circle / 自殺サークル
Penulis: Usamaru Furuya
Genre: Psychological, Horror
Volume: 1 (selesai)
Chapter: 6
Negara: Jepang
Rilis: 20 Maret 2002

Jisatsu Circle adalah manga yang rilis beberapa hari setelah filmnya (Suicide Club). Awalnya, alur cerita pada manga ini akan dibuat sama dengan filmnya, namun Sion Sono, sang sutradara, meminta Usamaru Furuya (penulis manga Jisatsu Circle) untuk mengadaptasi ceritanya sendiri dimana versi Usamaru Furuya alurnya lebih simpel dan mudah dipahami.

Nah, bagi yang udah nonton filmnya dan suka, mungkin akan lebih seru lagi kalo baca manga nya. Karena manga nya pendek, gak bertele-tele. Kurang dari 1 jam juga selesai. Tapi disini kita gak bahas filmnya ya. Ok.

Sesuai judul, ketika bunuh diri memiliki nilai seni?

“Hmm, bukannya bunuh diri itu gak enak ya?”
Kata siapa gak enak? Emang udah pernah nyoba? Hehe.

Sinopsis



Jisatsu Circle
Jisatsu Circle

Jadi gini, kesan pertama yang dikasih manga ini sama seperti filmnya, ada kurang lebih 54 perempuan yang terlihat sangat gembira, cekakak-cekikik, dan memiliki tanda yang sama pada daun telinga.

Mereka berbondong-bondong datang ke stasiun kereta, lalu berdiri berjajar di pinggir batas jalur kereta sembari menggandeng tangan satu sama lain. Ketika kereta mulai sampai, mereka mulai berhitung ala-ala orang Jepang (ya iya lah!)
“Se~ no . . .”
Mereka berhitung dengan kompak layaknya idol grup yang sedang memberi salam pada para penggemar. Daaaan.. lompat! Kamu pasti tau mereka bakal kaya gimana.
“Mati dong?”
Mati atuh! Kecuali si tokoh utama, Saya Kota, dan si Saya Kabupaten, Saya Kecamatan, Saya Kelurahan. Entah kenapa, hanya dia seorang yang tetap hidup sementara 53 orang lainnya tewas mengenaskan, gore banget!

Saya Kota
Saya Kota

Lalu, si Saya Kota lanjut membuat Suicide Club, karena ketua Suicide Club-nya, Mitsuko, tewas.
 “Oh, jadi yang 54 perempuan itu anggota Suicide Club?”
Yap. Saya Kota membuat Suicide Club baru dan menjadi the next Mitsuko. Sahabatnya, Kyoko, mencoba mencegah dan menyelidiki kegiatan Saya Kota dan Suicide Club-nya.

Kyoko
Kyoko

Review



Sip! Cukup sinopsisnya. Pokoknya kamu bakal disuguhkan visual yang keren dari Usamaru Furuya, apalagi bagi penyuka gore. Horror-nya ada, psychological-nya banyak! Karena si Saya Kota itu seorang psikopat, maka manga ini tidak dianjurkan untuk anak dibawah umur (R18+).

Tapi, dibalik ke-psikopat-an Saya Kota, manga ini berisi kata-kata yang menurutku filosofis walaupun gila, mulai dari alasan mengapa Suicide Club didirikan, mengapa Saya Kota ingin mati dan menyayat kedua lengannya sendiri tanpa henti.

Saya Kota Slicing
Saya(t) Kota

Ceritanya yang gila dan ending yang mind-blowing, membuatku berpikir,
“Anjing edan, ini karakter dibikin bunuh diri sambil tersenyum"
Manga ini aku rekomendasikan bagi penyuka visual gore, penyuka orang gila, eh, penyuka cerita psikopat, dan bagi kamu pecinta seni, bolehlah dibaca, manga ini mengandung filosofi yang keren dan gak se-linu filmnya kok.

Buat kamu sudah baca manga nya, atau sudah nonton filmnya, gimana menurut kalian? Ikut review di kolom komentar juga boleh. Yang belum baca juga tetep boleh komentar kok.

Akhir kata,
Saya Kota is smiling.

Rating: 4/5

 




Powered by Blogger.

Translate